Sabtu, 30 Oktober 2010

Gerakan Pramuka Indonesia









Scouting came to Indonesia in 1912, as a branch of the Nederlandse Padvinders Organisatie (NPO, Netherlands Pathfinder Organisation). After 1916 it was called the Nederland Indische Padvinders Vereeniging (Netherlands Indies Scout Movement). Other Scouting organizations were established by the Indonesia Scouts in 1916. As the Dutch East Indies, Indonesia had been a branch of the Netherlands Scout Association, yet Scouting was very popular, and had achieved great numbers and standards.

When Indonesia became an independent country, there were more than 60 separate Boy Scout and Girl Guide organizations. Most were directly affiliated with some certain political parties or social groups. Attempts were made to unify all Scout organizations into one.
national emblem of Ikatan Pandu Indonesia

The thousands of islands made administration and supervision difficult, and the Japanese occupation caused some twenty separate Scout organizations to spring up, and it took time for them to coalesce. In September 1951 thirteen of the stronger Scout organizations met and decided to found a federating body to satisfy national and international needs. Ikatan Pandu Indonesia - Ipindo for short - came into being. Tuan Soemardjo was elected chief commissioner, and Dr. Bahder Djohan, an old Scout and Minister of Education, became honorary President. Government approval of Ipindo was granted on February 22, 1952, and President Sukarno consented to become patron of the unifying and correlating National Scout Council. Indonesia has been a member of WOSM since 1953.

This resulted in the establishment of a single Scout Movement in Indonesia called "Gerakan Pramuka". In May 1961, the President of Indonesia signed a regulation making Gerakan Pramuka the official Scout organization in Indonesia.

Ragam Pramuka




Siaga adalah sebutan bagi anggota Pramuka yang berumur 7-10 tahun. Disebut Pramuka Siaga karena sesuai dengan kiasan pada masa perjuangan bangsa Indonesia, yaitu ketika rakyat Indonesia mensiagakan dirinya untuk mencapai kemerdekaan dengan ditandai berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 sebagai tonggak awal perjuangan bangsa Indonesia.

Kode kehormatan

Kode Kehormatan bagi Pramuka Siaga ada dua, Dwi Satya (janji Pramuka Siaga), dan Dwi Darma (ketentuan moral Pramuka Siaga). Adapun isinya adalah:

Dwi Satya

- Demi kehormatanku, aku berjanji akan : bersungguh-sungguh

- menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Indonesia, dan mengikuti tata krama keluarga

- setiap hari berbuat kebajikan

Dwi Darma

1. Siaga berbakti kepada ayah dan ibundanya

2. Siaga berani dan tidak putus asa

Dua Kode Kehormatan yang disebutkan di atas adalah standar moral bagi seorang Pramuka Siaga dalam bertingkah laku di masyarakat.

Satuan Satuan terkecil dalam Pramuka Siaga disebut Barung dan satuan-satuan dari beberapa barung disebut Perindukan. Setiap Barung beranggotakan 5-10 orang Pramuka Siaga dan dipimpin oleh seorang Pemimpin Barung yang dipilih oleh anggota Barung itu sendiri. Masing-masing Pemimpin Barung ini nanti akan memilih satu orang dari mereka yang akan menjadi Pemimpin Barung Utama yang disebut Sulung. Sebuah Perindukan terdiri dari beberapa Barung yang akan dipimpin oleh Sulung.

Dalam Pramuka Siaga ada tiga tingkat, yaitu:

1.Mula

2.Bantu

3.Tata

Setiap anggota Barung yang telah menyelesaikan SKU ( Syarat Kecakapan Umum ) berhak mengenakan TKU ( Tanda Kecakapan Umum ) sesuai tingkatannya yang dikenakan pada lengan baju sebelah kiri dibawah tanda barung berwarna dasar hijau. TKU untuk Siaga berbentuk sebuah janur atau disebut Mancung yakni bunga pohon kelapa yang baru tumbuh.

Dari Pramuka Siaga dalam satu Gugusdepan.

Setelah dilepas dari Perindukan, ia diantar oleh Pembinanya diserahkan kepada Pembina Penggalang melalui Upacara. Setelah diterima ditempatkan di suatu regu dengan status sebagai Tamu.

1. Setelah berhasil lulus menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum. Penggalang Ramu, ia dilantik oleh Pembinanya dalam suatu Upacara dengan mengucapakan janji Tri Satya dan disemati dengan Tanda Tutup Kepala Penggalang, Tanda Kecakapan Umum Penggalang Ramu serta mendapat Kartu Tanda Anggota berstatus Pramuka Penggalang.

2. Selanjutnya ia berhak meningkatkan kecakapan umumnya dan meraih kecakapan khusus sebanyak-banyaknya serta mengikuti berbagai kegiatan Pramuka Penggalang sampai batas usia Penggalang berakhir.

Dari Pramuka Penggalang dalam satu Gugusdepan .

Menyerahkan surat keterangan pindah dari Gugusdepannya.
1. Diterima dalam suatu upacara ditempatkan dalam suatu regu berstatus sebagai Tamu.

2. Mengikuti latihan dan menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum (SKU) tingkat Penggalang Ramu . Pakaian yang dikenakan yaitu boleh memakai seragam pada saat menjadi Pramuka Siaga status sebagai calon Penggalang Ramu.
3. Setelah berhasil lulus menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum Penggalang Ramu, ia dilantik oleh Pembinanya dalam suatu upacara dengan mengucapkan janji Tri Satya dan disemati Tanda Tutup Kepala Penggalang Kecakapan Umum Penggalang Ramu serta mendapat Kartu Tanda Anggota berstatus Pramuka Penggalang.
4. Selanjutnya ia berhak meningkatkan Kecakapan umumnya dan meraih kecakapan khusus sebanyak-banyaknya serta mengikuti sebagai kegiatan Pramuka penggalang sampai batas usia penggalang berakhir.

Dari anak Remaja yang belum pernah menjadi pramuka Siaga. Datang ke Gugusdepan dan menyatakan minat menjadi Pramuka.

Diterima dan ditempatkan di pasukan dengan status Tamu.

1. Mengikuti latihan rutin di pasukan dan menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum (SKU) Penggalang Ramu serta berstatus sebagai calon Penggalang Ramu. Pakaian bebas rapi dan apabila memakai seragam pramuka belum boleh mengenakan tutup kepala, setangan leher dan tanda pelantikan.
2. Bila berhasil menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum Ramu, ia akan dilantik oleh Pembinanya melalui Upacara. Mengucapakan janji Tri Satya dan setelah itu disemati Tanda Pelantikan, Tanda Kecakapan Umum, tutup kepala dan setangan leher. Ia telah syah menjadi anggota Gerakan Pramuka kelompok peserta didik dan akan mendapat Kartu Tanda Anggota (KTA).Selanjutnya ia wajib meningkatkan kecakapan umum di atasnya dan meraih kecakapan khusus sebanyak-banyaknya serta mengikuti berbagai kegiatan penggalang sampai batas usia penggalang berakhir.
3. Pramuka Penggalang yang usianya lebih dari 15 tahun oleh pembinanya akan dilepas dalam suatu upacara dan pindah ke golongan Pramuka Penegak.
4. Pramuka Penggalang yang usianya lebih dari 15 tahun oleh pembinanya akan dilepas dalam suatu upacara dan pindah ke golongan Pramuka Penegak.

scouts





pramuka scouts adalah salah satu ekstra kurikuler man pamekasan yang bergerak di bidang kepramukaan.yang aering bangets muncul didalam maupun luar pamekasan' selain itu berkat keuletan anak anaknya paramuka man pamekasan menjadi semakin kompaks..

Perjalanan Panjang 376km Mengelilingi Pulau Madura






Perjalanan Panjang 376km Mengelilingi Pulau Madura

i

3 Votes

Quantcast

ROUND TRIP MADURA SERIES | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |

Sesuai agenda semula. Hari sabtu tanggal 15 Agustus kita berangkat untuk memulai tur mengitari pulau Madura.

Etape 1 : Mojoarum – Suramadu. 14 km

Rencana awal kami (chimot dan mantos) berangkat pukul setengah 6 pagi. Tapi karena bakat bangun pagi yang susah Mantos, ditambah malamnya kami cangkrukan di warung pecel Pucang hingga pukul 11 malam, jadilah keberangkatan kami kali ini molor. Kami baru bertolak dari rumah saya di Mojoarum pukul 7 pagi. Walaupun matahari sudah cukup tinggi, namun jalanan cukup lengang, hanya diramaikan oleh orang-orang yang sedang jogging pagi saja. Suasana gerbang tol jembatan Suramadu pun bisa dibilang sepi. Tidak ada antrian sama sekali. Bertolak belakang dengan keadaan hingga satu bulan pasca pembukaan yang antriannya hingga mencapai 3 km.
Setelah membayar Rp.3.000, tarif yang dikenakan kepada pengendara sepeda motor (Rp.30.000 untuk kendaraan roda empat atau lebih), kami pun melenggang melintasi jembatan terpanjang di Indonesia ini sepanjang 5,4 km. Jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau terbesar di propinsi Jawa Timur ini. Angin berhembus cukup kencang, terutama dibagian main gate dari jembatan Suramadu ini. Pantas saja ada rambu-rambu yang menunjukkan kecepatan minimal diharuskan adalah 60 km/jam dibagian ini untuk pengendara sepeda motor. Dengan tujuan agar pengendara sepeda motor tidak terbawa oleh derasnya tiupan angin. Kami membutuhkan waktu sekitar 15 menit melintasi jembatan ini, dengan kecepatan yang santai, sambil menikmati suasana pagi diatas jembatan yang cukup nyaman.

Etape 2 : Suramadu – Sampang. 74 km

Tol Suramadu

Selepas Suramadu kami dihadapkan lintasan panjang berujung bertemu dengan jalanan utama Bangkalan – Sampang. Lintasan panjang lebih dari 10 km ini jalan baru proyek jembatan Suramadu, sehingga belum ada kehidupan disekitarnya. Hanya ada beberapa penjual bensin eceran dan tukang tambal ban sekitar 1 km sekali. Selepas kami bertemu jalanan utama Bangkalan – Sampang misi berikutnya adalah mencari pom bensin. Karena jarum penunjuk level tangki sepeda motor saya sudah hampir berdamai dengan huruf E. Ketakutan kami adalah isu bahwa di Madura jarang sekali ada pom bensin, membuat kami sudah ingin mengisi ditempat penjual bensin eceran. Namun kami tahan dulu hingga ambang batas minimum. Dan memang, dari hasil kami selama mengelilingi madura ini, pom bensin hanya ada rata-rata setiap 10 km sekali. Itu rata-rata. Kadang 3 km sudah ada. Tapi tidak jarang 15 km baru ada. Tapi jangan salah orang penjual bensin eceran ada dimana-mana. Jangan khawatir. Pintar-pintar saja memilih penjual jika memang khawatir bensin yang dijual tidak murni.
Bisa dibilang perjalanan menuju Sampang ini lengang, cenderung monoton. Karena mungkin saya pribadi terbiasa dengan suasana jalan yang ramai ketika berkendara di Jawa. Disini lalu lalang orang sedikit sekali. Dan kondisi rumah-rumah disekitar jalan raya juga sepi kalau tidak ingin dibilang serasa tak berpenghuni. Namun tepatnya di kecamatan Galis, tiba-tiba saja jalanan menjadi macet, padat tak bergerak. Rupanya didepan sana ada pasar hewan. Dan berpuluh-puluh kendaran penganggut sapi hadir disana. Benar-benar ramai suasanananya. Ada yang sibuk memarkir kendaraaanya. Ada yang sibuk menurunkan sapi-sapinya. Bahkan sapi-sapipun bersliweran dijalan raya, dengan pemiliknya tentunya. Selepas melewati pasar hewan ini, perjalanan pun relatif sepi kembali hingga sampai di Sampang.

Etape 3 : Sampang – Pamekasan. 36 km

Sampang

Sampang, salah satu dari 4 kota besar di Madura adalah kota yang tidak terlalu besar dan ramai untuk ukuran Jawa dimata kami. Sesampainya di Sampang kami langsung mencari warung makan, karena tangki bahan bakar perut kami juga sudah empty. Pilihan kami jatuh kepada warung sate, masakan khas Madura. Harga murah meriah. Satu porsi, terdiri dari sate ayam 10 tusuk dengan nasi putih dikenakan tarif Rp.8.000.
Setelah tangki perut kami kembali full perjalanan kami lanjutkan menuju kota Pamekasan. Dengan sebelumnya kami berencana mampir terlebih dahulu di Pantai Camplong. Salah satu obyek wisata andalan kabupaten Sampang. Keindahan dari pantai yang satu ini adalah lautnya yang tenang dengan warna yang hijau bak jamrud. Sehingga tampak menawan mata, sedikit mengurangi keindahannya. Cobaan sempat hinggap karena ban belakang sepeda motor saya bocor. Seperti ketakutan kami sebelumnya, ban belakang sepeda motor saya yang gundul benar-benar sensitif terhadap benda-benda kecil yang tajam. Dengan menuntun kurang lebih 1 km membuat nasi sate kami terbuang jadi keringat. Perjalanan pun kami lanjutkan setelah itu. Menyisir pantai selatan pulau Madura, yang memiliki laut sangat hijau. Namun kemonotonan kembali menghinggapi perjalanan kami. Jalur yang sepi dan serasa kering (seperti perjalanan ke gresik) membuat Mantos yang berada dibelakang sudah manggut-manggut menabrak helm saya karena mulai kehilangan kesadaran alias mengantuk.
Menjelang memasuki kota Pamekasan jalan padat tak bergerak kembali. Kami menduga ada pasar hewan lagi. Ternyata bukan. Didepan ada pawai arak-arakan menyambut 17 Agustusan. Kami pun memutuskan untuk mencari jalur alternatif.

Etape 4 : Pamekasan – Sumenep. 58 km

Pamekasan

Di Pamekasan kami tidak mampir kemana-mana. Rencana awal kami ingin melihat api abadi Dhangka. Namun karena harus berkejar-kejaran dengan waktu sehingga diputuskan untuk dilewati saja. Ditambah lagi juga karena siang-siang panas, kurang nikmat jika masih harus ditambah dengan menikmati api. Sempat berhenti didepan masjid agung Pamekasan, tapi karena waktu dzuhur masih 20 menit lagi, sehingga kami putuskan perjalanan kami lanjutkan saja.
Perjalanan menuju Sumenep ini melintasi hutan dan naik turun bukit. Semacam alas Roban. Hingga menjelang 10 km terakhir memasuki Sumenep suasana berubah dari menembus hutan menjadi menyisir areal tambak. Suasana benar-benar sangat indah. Seperti jalan yang serasa menembus lautan, dengan pinggir-pinggir jalan banyak pohon-pohon besar menaungi. Kami tergoda untuk berhenti sejenak menikmati suasana ini. Ditambah lagi aliran darah dipantat kami benar-benar sudah berhenti, yang membuat rasanya panas sekali karena otot-otot pantat berontak minta untuk disupply oksigen. Dan ini menjadi alasan yang tepat untuk berhenti sebagai suatu keharusan. Setelah puas menikmati suasana dan beristirahat sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan yang tinggal 6 km menuju kota Sumenep.

Etape 5 : Sumenep – Bangkalan. 161 km

Sumenep

Sumenep, kota inilah tujuan utama kami. Banyak sekali obyek wisata andalan pulau Madura yang berada di kabupaten ini. Selain itu kota Sumenep merupakan kota yang sangat bersejarah bagi warga Madura. Dikota ini kami singgah di Masjid Agung Sumenep untuk menunaikan kewajiban sholat Dzuhur sekaligus untuk rehat sejenak meluruskan tulang punggung yang sudah bengkok tidak karuan, kemudian dilanjutkan ke keraton Sumenep, dan terakhir ke makan para raja-raja Sumenep, Asta Tinggi. Karena waktu sudah semakin sore dan kami harus menempuh perjalanan pulang yang sangat-sangat panjang, maka kamipun bertolak melakukan perjalanan pulang. Sempat terbersit keinginan untuk mengunjungi pantai Lombang, pantai yang kabarnya sangat indah terkenal hingga mancanegara, obyek andalan kota Sumenep. Namun mengingat letaknya masih 30 km sebelah timur laur kota Sumenep dan ditambah lagi itu berlawanan dengan jalur pulang kami, maka kami putuskan untuk tidak usah kesana. Cukuplah diwakili oleh pantai Slopeng, pantai tandingan, yang akan kami lewati dalam perjalanan pulang kami. Eksotisme dari pantai Slopeng ini menjadi suntikan energi baru bagi urat-urat ditubuh kami yang sudah mencapai kelelahan.
Perjalanan pulang kami ini menyusuri pantai utara dari pulau madura, yang pemandangan indahnya membuat mata kami terjaga untuk tetap segar. Ini adalah etape terpanjang dari perjalanan ini. Dipesisir utara pulau Madura ini tidak ada kota-kota besar seperti halnya Sampang, Pamekasan dan Sumenep, namun jangan salah, kota-kota kecilnya ini sangat ramai, paling tidak ketika adanya acara pawai 17 Agustus ini. Ditiap kota kecamatan ada lomba gerak jalan. Juga pawai kendaraan hias. Dan beberapa kali kami harus terjebak kemacetan karenanya. Putar sana putar sini tetap efeknya sama saja. Tetap menemui keramaian. Mulai dari Ambunten, Pasongsongan, hingga Sokabana kami harus bersabar menghadapi kemacetan. Di kota kecamatan Ketapang sudah tidak terjebak lagi, karena hari sudah menjelang maghrib, namun bekas dari keramaian masih ada disana.
Gelap pun tiba. Dan ini menjadi siksaan baru. Karena lampu sepeda motor saya sudah sangat redup, dimana lampu dekatnya sudah mati, tersisa lampu jauh dan itu sangat mendongak, sedikit sekali membantu penglihatan malam. Kami mengandalkan bantuan dari kendaraan lain yang lewat. Ada mobil lewat kami membuntuti dibelakangnya. Tapi karena kendaraan tersebut melaju dengan kecepatan yang kencang, sayapun juga harus menggeber gas sekencang-kencangnya agar tidak ketinggalan. Aneh juga. Disiang hari saya maksimal hanya 70 km/jm. Namun dimalam hari dengan keadaan hampir buta ini saya malah ngebut tidak karuan. Hampir 100 km/jam. Shogun saya rasanya sudah meronta-ronta tidak tahan. Namun karena mobil-mobil tersebut lebih sering tidak terkejarnya, maka ketika sudah tidak terkejar lagi kami pun berjalan pelan-pelan lagi menunggu mobil berikutnya. Disaat seperti itu kami hanya lebih banyak mengandalkan insting daripada mata. Tidak ada lampu jalan, lampu sepeda motor yang tinggal setengah watt, tidak adanya kehidupan dipinggir-pinggir jalan, membuat suasana hampir gelap total. Pernah kami hampir jalan terus padahal jalanan menikung. Dan itu terjadi berulang kali. Pada saat kami kebut-kebutan membuntuti mobil didepan kami, satu yang kami kagumi, jalan aspalnya benar-benar mulus. Hampir tidak ada cacat sedikitpun. Membuat acara kebut-kebutan kami ini tetap lancer. Kami tidak perlu terjerumus kedalam lobang jalan raya yang tidak kami lihat. Acara gelap-gelapan ini berakhir ketika kami memasuki Bangkalan. Denyut kehidupan mulai terasa keras. Dan itu berarti penerangan yang cukup.

Etape 6 : Bangkalan – Mojoarum. 36 km
Di Bangkalan kami cuma lewat saja. Selain tidak ada hal yang ingin kami singgahi disana, hari juga sudah malam, fisik sudah sangat lemah, perut juga sudah demo minta di isi. Tepat dipersimpangan menuju jembatan Suramadu, tempat dimana kami pagi tadi berangkat dari titik ini menuju kearah timur, dan kami sekarang kembali dari arah barat, ada keharuan tersendiri. Kami benar-benar sudah satu putaran penuh. Saatnya untuk pulang.
Sebelum pulang ke rumah saya di Mojoarum, kami isi perut dulu di warung bebek super depan tugu pahlawan untuk merayakan perjalanan kami kali ini. Warung adalan saya kalau lagi minta traktir Mantos ketika mampir ke Surabaya (tuan rumah yang minta traktir). Wajah yang seperti topeng karena debu jalanan yang menempel, bau badan yang tidak karuan, tidak kami pedulikan ketika mengantri dengan puluhan orang lainnya, karena demonstrasi diperut semakin menjadi-jadi. Dan benar, rasa bebeknya yang biasanya saja sudah sangat nikmat, kali ini terasa 2x lebih nikmat. Tiba dirumah, langsung ambil posisi tengkurap semua. Meluruskan tulang punggung biasanya dengan cara tidur terlentang, tapi kali ini tidak bisa. Karena pantat sudah emosi. Tidak bisa diajak untuk bersentuhan dengan apapun. Mereka benar-benar berontak meminta kebebasan. Dengan semakin terbangnya kami kealam mimpi, maka perjalanan kami mengitari pulau Madura sepanjang 376 km selama 13 jam pun berakhir.

pamekasan


Anak-anak dan Makanan Berbahaya
Anak-anak Indonesia belum sepenuhnya aman dari ancaman bahan makanan berbahaya. Terlebih lagi anak-anak di daerah. Selalu saja kita menyaksikan dan membaca berita di media tentang anak-anak yang keracunan makanan, terutama jajanan di lingkungan sekolah.

Mengapa anak-anak keracunan makanan ringan? Adakah yang salah dengan anak-anak kita? Pertanyaan ini layak diajukan sebagai pembuka untuk menelisik lebih jauh fenomena keracunan makanan ringan yang kerap menimpa anak-anak kita.

Disadari atau tidak kita (termasuk anak-anak kita) tengah diserbu oleh apa yang disebut modernisasi. Namun modernisasi yang tengah menggempur anak-anak kita bukanlah sebuah upaya untuk mengembangkan diri lebih baik, lebih maju. Dalam hal makanan